Demanding, Cara Sukses Mencapai Tujuan

Image courtesy of Ambro / FreeDigitalPhotos.net

Beberapa waktu yang lalu saya diskusi dengan team saya, dalam rangka coaching. Dalam sesi coaching ini, tema yang ditawarkan adalah TODE (Take ownership, Outside-in, demanding, End-to-end) dan Performance. Sebagian besar memilih tema Demanding. Saya bertanya, mengapa mayoritas memilih demanding? Ternyata alasan yang paling dasar adalah kesulitan mereka dalam demand (request) kepada orang (tim) lain. Delivery time dari orang/pihak/tim/rekan kerja yang di-request, sangat sering tidak sesuai harapan. Kadang hanya meminta data yang sederhana saja, rekan kerja memberinya beberapa hari kemudian, itupun setelah diingatkan beberapa kali.

Dalam diskusi coaching itu, kita mencoba mengupas sampai tuntas, mengapa orang lain tidak memberi sesuai yang kita harapkan? Di kantor ini, kita sudah mafhum dengan budaya kerja “kepuasan pelanggan adalah hal yang utama”, kita berasumsi bahwa semua orang punya semangat untuk memberikan yang terbaik. Namun tampaknya, banyaknya beban pekerjaan, menyebabkan orang tidak mudah untuk menentukan prioritas. Juga banyaknya pekerjaan, orang kadang lupa dengan request kita. Oleh karena itu, kita dituntut untuk lebih demanding. Kita perlu melakukan tindakan yang lebih, tidak sekedar meminta dan menunggu diberi. Continue reading Demanding, Cara Sukses Mencapai Tujuan

Kunci Komunikasi Sukses: Mendengarkan


Image courtesy of Michal Marcol / FreeDigitalPhotos.net

Dulu saya pernah kerja di perusahaan konsultan IT, sebagai DBA (Database Administrator) specialist. Perusahaan saya ini dapat proyek implementasi dan maintenance Database Oracle di sebuah perusahaan jasa. Dalam masa dua tahun maintenance, kami mendapat beberapa komplain keras dari client. Sebenarnya, tim DBA yang di-assign ke perusahaan client ini kapabilitasnya sangat bagus. Mungkin karena client ini mempunyai beberapa DBA sendiri yang jago-jago dan merasa tahu banyak mengenai Database Oracle, sehinga dalam banyak kesempatan mereka gampang menilai kinerja kami begini-begitu.

Akhirnya project manager (PM) kami memutuskan untuk merolling tim DBA yang bertugas, pertimbangannya: mungkin saja DBA client butuh DBA yang baru dari kami untuk penyegaran. Akhirnya saya di-assign untuk handle client ini. Jadi, alasannya semata-mata karena penyegaran, bukan karena saya lebih baik kemampuan DBA-nya (lha wong DBA yang saya ganti ini lebih senior dari saya). Continue reading Kunci Komunikasi Sukses: Mendengarkan

Menghargai dengan Berterima Kasih


Image courtesy of Stuart Miles / FreeDigitalPhotos.net

Beberapa waktu lalu ada seorang rekan kerja menghampiriku sambil berkata, “Terima kasih, Mas. Sejak Mas Rohmad menjelaskan goal dan benefit enhancement aplikasi Customer Service di Kick of Meeting kemaren, saya jadi sangat mengerti betapa bergunanya feature ini.” Jlebbb! Hatiku gembira banget, dan serasa melayang-layang.

Di kesempatan lain, ada rekan kerja yang bilang, “Mas, terima kasih ya. Sejak Mas Rohmad bilang bahwa loading web SAP lumayan lama, saya sebagai owner aplikasi langsung merespon dan men-tuning web tersebut. Syukur, sekarang loading web SAP jadi semakin cepat dan pengguna yang lain jadi lebih puas.” Jlebbb lagi! Hatiku gembira banget, dan serasa melayang-layang. Continue reading Menghargai dengan Berterima Kasih