Kiat Menghadapi Macetnya Jalan di Jakarta

Ilustrasi macet. Image from koran-jakarta.com

Jakarta, macetnya semakin tidak ketulungan. Kemarin sore aku terjebak macet selama 4 jam. Maksud hati ingin pulang tenggo jam 17.00, apa daya keadaan seperti ini, jadi sampai rumah ya jam 21.00 juga. Minggu lalu, pulangnya aku malamin sekalian, jam 22.00 dari kantor, eh masih macet juga, sampai rumah jam 2.00 (ini termasuk malam apa pagi ya?).

Dulu, berangkat kerja dari rumah jam 5.45, biasanya sampai kantor jam 7.00. Eh, sekarang berangkat dengan jam yang sama sampai kantor jam 8.00. Akhirnya sekarang aku biasakan berangkat jam 5.30, dan sampai kantor jam 7.30.

Sebelum-sebelumnya, rata-rata perjalanan berangkat kerja 1,5 jam, perjalanan pulang 2 jam, total 3,5 jam. Sekarang-sekarang, perjalanan berangkat 2 jam dan pulang 3 jam, total 5 jam. Wow banget khan!

Menurt aku, penyebab utamanya adalah jalur busway yang disterilkan. Dulu beberapa ruas jalan sengaja diperbolehkan untuk umum pada jam-jam berangkat dan pulang kerja. Sekarang total tidak boleh. Jadinya, perjalanan lebih mampet, baik pakai kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Bahkan, naik busway (Bis Trans jakarta) pun lebih lambat meskipun jalurnya disterilkan, karena di beberapa titik persingungan dengan kendaraan non busway terjadi kemampetan yang parah.

Penyebab kedua, dampak lanjutan dari penyebab pertama, yaitu orang semakin malas naik kendaraan umum dan memilih naik kendaraan pribadi. Lha, macet-macet begini mending naik mobil daripada berdiri empet-empetan di bis yang sumpek. Naik bis yang AC pun masih terasa melelahkan, bagiamana bis yang tidak pakai AC?

Penyebab ketiga, sekarang sudah mulai masuk musim hujan. Tahu sendiri khan, sedikit hujan saja langsung trejadi genangan air di mana-mana, tentu saja ini khan bikin laju kendaraan melambat. Truss, belum lagi para bikers yang berteduh di bawah jembatan atau jalan layang. Jalan yang kapasitas normalnya 3 jalur menjadi 1 jalur karena yang 2 jalur dipakai berteduh para bikers. [maaf ya kawan-kawan bikers, bukan bermaksud menyalahkan kalian, aku tahu kok apa yang kalian rasakan].

Penyebab keempat, ada proyek perbaikan jalan di beberapa ruas. Untuk sementara, ini memang mengganggu. Untuk jangak panjangnya, ini mestinya memperbaiki keadaan.

Penyebab kelima, jumlah kendaraan pribadi yang semakin banyak. Apalagi dengan adanya mobil murah, semakin mudah saja orang mempunyai dan memakai mobil pribadi.

Sempurna sekali, bukan? Itulah ibukota Jakarta. Kejamnya melebihi ibu tiri he…he… Maaf ya para ibu tiri. Yang dimaksud adalah ibu tiri yang ada di film-film, bukan kalian-kalian yang pastinya ibu tiri yang baik.

Kita-kita para pengguna jalan di Jakarta, tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Pemerintah sudah, sedang, dan terus berusaha mengatasi masalah kemacetan ini. Kawan-kawan sesama pengguna jalanpun tidak bisa disalahkan begitu saja. Kita adalah korban [meski beberapa perilaku negatif kita semakin memperparah keadaan he…he…]

Dari ngobrol-ngobrol dengan teman-teman, kita punya beberapa saran solusi gimana sih caranya agar macet ini bisa berkurang, minimal tidak bertambah parah lah. Ini saran yang sepele, tidak muluk-muluk seperti sarannya para ahli transportasi:

  1. Jalur busway tidak sepenuhnya disterilkan. Beberapa ruas bisa dibebaskan untuk kendaraan apa saja, misalnya titik-titik jalur pertemuan.
  2. Kendaraan umum non busway [bis, mikrolet, angkot, dan taksi] boleh melalui jalur busway.
  3. Tentu saja, perbanyak kendaraan umum, dan perbaiki fasilitasnya khususnya AC.
  4. Tentang banjir dan genangan air, solusinya sudah jelas.
  5. Tentang pertumbuhan pemakai jalan yang distimulus oleh program mobil murah, pemerintah lebih ngerti dan berkepentingan dengan hal ini.

Saran untuk kawan-kawan pemakai jalan senasib sepenanggungan, sabar saja ya. Jangan emosinal di jalan. Jangan suka memotong jalannya kendaraan lain, dan jangan gampang marah kalo jalan kita diserobot secara tiba-tiba oleh orang lain. Marah dan tidak marah, kondisi jalan sama saja kacaunya. Kalau bisa memilih untuk tidak marah, kenapa kita tidak memilih untuk tidak marah? Dengan sabar dan santai, perjalanan akan lebih terasa ringan walau seperti apapun beratnya.

Jangan sampai masalah-masalah macet ini merenggut kebahagiaan kita. Cukuplah badan yang capek, cukuplah waktu yang kepaksa habis di jalan, cukuplah duit yang boros untuk bahan bakar, tapi hati dan pikiran mesti tetap happy. Nikmati saja apa yang bisa dinikmati, misalnya radio dan music, atau nikmati saja wajah orang-orang di sekitar kita yang enak dipandang he…he…

TTDJ ya teman-teman, ati-ati di jalan. Keluarga kita menunggu di rumah. Tetap semangat!!!

Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana pada 3-Desember-2013

This entry was posted in Motivasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kiat Menghadapi Macetnya Jalan di Jakarta

  1. Pingback: Membenahi Jakarta dari Istana Negara | Firdaus Cahyadi

  2. Rendi says:

    kalau angkot nya nge-tem di jalur busway orang pada gak akan mau nai angkutan umum dong pak ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *