Spiritual untuk Dialami, bukan Sekedar Pengetahuan

Image courtesy of digitalart/ FreeDigitalPhotos.net

Aku punya teman. Namanya Pribadi. Laki-laki dewasa menjelang umur 40-an. Mapan secara sosial dan ekonomi. Namun belum mapan secara spiritual. Setidaknya itu yang dia sampaikan kepadaku. Kalau nurut aku sendiri justru malah sebaliknya, dia belum mapan secara sosial maupun ekonomi, tapi secara spiritual malah sudah mapan. He…he…he… kebalik-balik ya. Gak aneh kok, ini khan cuma mainan persepsi saja. Persepsi dia tentang dirinya begitu, dan persepsiku tentang dirinya begini. Sama-sama valid.

Sebut saja dia Prib. Lha dia maunya dipanggil begitu. Kalau dia minta dipanggil Angka, ya akan kupanggil Angka. Dalam banyak hal, aku belajar banyak dari dia. Khususnya belajar dewasa atau wise. Yah, dalam bahasa yang muluk-muluknya, aku belajar spiritual dari dia. Nah, sekarang mari ngomongin spiritual. Yang aku omongin di tulisan ini mostly juga dari dia-dia juga.

Menurut Prib, spiritual adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kejiwaan (spirit, ruh, mental, jiwa). Dia bilang, ini penertian yang dia buat sendiri untuk dia sendiri, tidak mengambil secara khusus dari pengertian nurut konsep-konsep yang umum di agama ataupun aliran kepercayaan tertentu. Dan pengertian dari Si Prib ini yang aku pakai dalam tulisan-tulisan ini.

Masih nurut Prib, laku atau latihan spiritual adalah segala tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan derajat atau kualitas mental. Derajat spiritual seseorang semakin naik ditandai dengan semakin dewasanya (bijaksana, wise) mental orang tersebut. ciri-ciri dewasa adalah: dia bahagia, bisa melihat dengan jelas mana yang subyektif dan mana yang obyektif, mampu memposisikan diri di pihak yang netral, bisa melihat dari banyak perspektif, dan tentu saja dia menyadari betul apa yang sedang dia rasakan dan pikirkan. He…he… kalau mbulet, skip aja membaca pengertian si Prib yang aku tulis ini.

Secara mental, Prib sangat matang. Cara berpikir, berkata, dan bertindak menunjukkan kematangannya. Makanya aku banyak belajar dari dia.

Meskipun aku sudah banyak belajar spiritual dari Prib, aku kok belum merasa mateng-mateng juga. Aku sampekan ini ke Prib. Kata dia, “Bro, spiritual itu bukan sekedar dibaca, diingat, dan dianggap sebagai pengetahuan. Tapi, spiritual itu adalah pengalaman langsung. Jadi, loe sendiri yang mesti menjalani dan mengalaminya”.

Contoh pengetahuan tentang spiritual: Dengan mengamati apa yang dipikirkan, maka pikiran itu lama-lama akan rileks sendiri. Nah, kalau tidak dipraktekkan langsung, aku ya gak tahu seperti apa pikiran yang rileks itu. Selama belum mengalami, aku gak tahu seperti apa rasanya. Aku hanya tahu teori atau konsep yang menjelaskan hal itu.
Contoh laku spiritual: aku duduk diam, sebut saja meditasi, mengamati dan menyadari apa-apa yang sedang aku pikirkan, dan lama-lama aku merasakan sendiri bahwa pikiranku menjadi rileks dan tenang. Jadi, kuncinya adalah melakukan dan mengalami.

Dan, kebijaksanaan spiritual bisa diraih dengan menjalaninya. Tidak cukup hanya dengan mengetahui dari cerita atau konsepnya. Makanya kita sering lihat orang-orang yang berbicara tentang spiritual, bahkan mengajarkan spiritual, tapi dia sendiri tidak mencerminkan pribadi orang yang matang spiritualnya.

Lantas apakah pengetahuan spiritual yang didapat dari cerita orang lain itu tidak ada gunanya? Tentu saja ada. Pengetahuan itu semacam petunjuk jalan. Setidaknya, itu petunjuk jalan yang telah dilewati orang lain. Kalau itu cocok buat diri kita sendiri, ya OK-OK saja kita praktekkan.

Itulah cerita tentang kawanku, Prib. Mudah-mudahan nanti-nanti aku bisa menulis lagi apa yang telah dia share ke aku.

This entry was posted in Spiritual and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Spiritual untuk Dialami, bukan Sekedar Pengetahuan

  1. Parta says:

    Makanya kita sering lihat orang-orang yang berbicara tentang spiritual, bahkan mengajarkan spiritual, “tadi” dia sendiri tidak mencerminkan pribadi orang yang matang spiritualnya.

    salah ketik tuh yang saya kutipin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *