Tidak Berbohong walau dalam Situasi Sulit

Image courtesy of Stuart Miles/ FreeDigitalPhotos.net

Secara akal sehat (common sense) bohong itu tidak baik. Kadang-kadang kita dihadapkan pada situasi yang memaksa kita untuk berbohong. Untuk justifikasinya, kita lantas membuat-buat alasan “Oh, ini khan darurat, emergency. Dalam kondisi gini bolehlah berbohong.” Apapun alasannya, sebagai manusia normal kita akan merasa menyesal setelah melakukan tindakan berbohong. Rasa menyesal ini, adalah beban yang mengganggu kesehatan mental kita. Kalau dalam bahasa spiritualnya, bohong adalah energi negatif yang mengotori kesucian jiwa sehingga menghalangi orang untuk mencapai pencerahan. So, sebaiknya sebisa mungkin bohong itu dihindari. Kalau tidak bisa, ya gimana lagi 🙂

Saya punya cerita, bagaimana cara untuk menghindar dari berbicara bohong. Triknya lumayan unik, out of the box .

Alkisah [pada suatu waktu – once upon a time], seseorang sedang duduk di bawah pohon menikmati teduhnya udara dan semilirnya angin. Sebut saja dia Si Bijak. Sedang asyik-asyiknya dia menikmati suasana alam, tiba-tiba dari arah belakangnya muncul orang yang berlari ketakutan. “Tuan, saya sedang dikejar-kejar segerombolan orang jahat. Tak lama lagi mereka akan sampai sini. Kalau mereka bertanya tentang saya, tolong anda bilang tidak tahu, ya.” Tanpa menunggu jawaban Si Bijak, orang tersebut langsung lari menuju balik bukit di depannya.

Si Bijak masih duduk bengong meski orang itu sudah hilang di balik bukit. Tak lama setelah itu, muncul serombongan orang berlari menuju Si Bijak. Mereka ini tampaknya warga biasa, orang yang baik-baik. Sama sekali tidak menunjukkan tampang orang-orang jahat. Salah seorang dari mereka bertanya pada Si Bijak, “Tuan, apakah anda melihat orang berbaju hijau dan celana hitam lewat sini? Kami adalah warga desa sini, sedang mencari-carinya. Dia adalah maling yang telah mencuri uang kas desa.”

Si Bijak berpikir. Orang yang lari tadi tampangnya memang serem juga ya. Seperti bukan orang baik-baik. Dari pakaiannya, wajahnya, sorot matanya, juga suaranya. Dan orang-orang yang mencarinya ini tampaknya memang warga desa yang baik-baik. “Emmm…. gimana, ya. Kasih tahu gak ya” pikirnya.

Berbagai pertimbangan terlintas di pikirannya. Pertama, si orang tadi ketakutan dikejar orang-orang yang pengin menangkapnya, kalo ketemu mungkin akan dihajar atau dibunuh. Jadi dia perlu dilindungi. Apalagi kalau massa sudah emosi dan berkumpul begini, walau pada dasarnya orang-orang yang ngejar ini adalah orang baik-baik, tapi massa sangat gampang untuk brutal dan lupa diri bahkan lupa aturan.

Di lain hal, ini adalah pencuri, mesti ditangkap agar barang yang dicurinya bisa dikembalikan, dan tentu saja yang salah mesti dihukum. Tapi kalau yang menghukum massa, ya ceritanya akan lain.

Sementara itu, Si Bijak punya prinsip bahwa berbohong itu tidak baik. Untuk diri sendiri maupun orang lain, bohong tetap tidak baik. Lagi pula, siapa yang bisa dipercaya, satu orang yang dikejar tadi, atau orang-orang yang mengejar ini? Apakah dengan tampang dan wajah, serta pengakuan sepihak, lantas bisa men-judge seseorang dengan mudahnya?

“Siapa yang baik dan siapa yang jahat, aku tidak tahu” pikir si bijak, “Baik-buruk benar-salah itu relatif. Namun menurut akal sehatku, kalau aku bicara yang sebenarnya, orang tadi mungkin akan ketangkap, dan aku tidak bisa membayangkan akan diapakan dia oleh orang-orang yang marah ini”.

Blink…!!! Si Bijak tiba-tiba merasa lepas dari kebimbangannya. Dengan santai dia melangkah mendekat ke orang yang bertanya tadi dan bilang “Tuan, sejak saya berdiri di sini, saya tidak melihat orang yang anda maksudkan.” Wajah si bijak yang innocence dan polos itu, tetep saja tidak langsung bisa meyakinkan karena orang-orang merasa yakin bener bahwa yang dia kejar hampir pasti melewati sini.

“Benar, Tuan. Apakah anda melihat ada kebohongan di muka saya?” akhirnya orang-orang itu percaya sama jawaban Si Bijak. Merekapun akhirnya kembali lagi, “Ayo, kita cari ke tempat lain!” kata salah satu dari mereka.

Cerita selesai. Moral of story-nya, atau lesson learned-nya: Si Bijak ini sebenarnya tidak bohong. Waktu dia duduk di bawah pohon tadi, dia memang melihat orang yang berbaju hijau dan celana hitam lewat sini. Namun sejak dia melangkah mendekat ke si penanya, dia otomatis sudah pindah posisi dan sekarang posisinya ada “di sini”.

Coba lihat lagi jawabannya “Tuan, sejak saya berdiri di sini, saya tidak melihat orang yang anda maksudkan.” Jawabannya valid khan? Wajar dong, Si Bijak “di sini” khan baru saja. Dia memang melihat orang lewat dan lari, tapi itu tadi waktu dia masih duduk di tempat tadi. Lha sekarang dia sudah  berdiri dan pindah posisi. Anda lihat? Dia tidak bohong khan? 🙂

Itulah salah satu tips atau cara menghindari jebakan berbohong. Bisa menjadi inspirasi kita untuk berpikir tidak seperti biasanya, berpikir keluar pakem, namun tetap memegang prinsip-prinsip universal yaitu tidak berbohong.

This entry was posted in Motivasi and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Tidak Berbohong walau dalam Situasi Sulit

  1. agus says:

    sama aje boss, cuma ilmu “ngeles” kudu di upgrade 🙂

  2. Daniel says:

    Heee,,bisa,,jadi,,bisa jadi,,tp ttp aja itu bohong pak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *