Kisah Inspiratif: Jangan Nilai dari Kulitnya

Ilustration. Image from www.psych.ubc.ca

Mungkin cerita-cerita seperti ini sudah banyak. Misalkan cerita tentang sepasang suami istri yang tampangnya sangat tidak meyakinkan yang berniat menyumbang gedung suatu universitas, tapi diremehkan, dan akhirnya mereka membangun universitas sendiri. OK lah, aku cerita dulu tentang suami istri ini, sebelum aku cerita punyaku sendiri.

Setting cerita ini di Amerika Serikat (US). Alkisah, sepasang suami istri mendatangi universitas ternama. Mereka ingin menemui rektor. Pakaiannya kumal dan sangat sederhana. Begitu ketemu sekretarisnya saja, langsung dipandang aneh dan diremehkan, mau apa gerangan orang seperti ini menemui sang rektor. Sekretaris bilang bahwa hari itu rektor sangat sibuk, apalagi mereka tidak ada janji uuntuk ketemu sebelumnya, jadi mereka mesti menunggu cukup lama. Oleh si sekretaris, mereka dibiarkan menunggu lama. Dia berharap kedua orang tua ini bosan menunggu sehingga segera pergi. Aneh, mereka masih saja menunggu, justru si sekretaris yang semakin tak sabar agar mereka berdua pergi.

Akhirnya si sekretaris menemui rektor, dan berharap rektor mau menemuinya barang 5 menit agar mereka bisa pergi. Akhirnya, bertemulah kedua orang tua itu dengan sang Rektor. Seperti reaksi sekretaris tadi waktu pertama kali ketemu kedua orang tua ini, sang rektor memandang aneh terhadap kedua orang tua kumal dan lusuh ini.

“Ada gerangan apakah bapak dan ibu menemui saya?” tanya sang rektor. Sang ibu menceritakan bahwa anak mereka sempat kuliah di sini selama 1 tahun, dan anaknya itu sudah meninggal setahun yang lalu. Anaknya sangat mencintai kampus ini, sehingga mereka ingin agar didirikan suatu monumen untuk anaknya, sebagai kenangan bahwa anaknya pernah menuntut ilmu di sini. Tentu saja sang rektor menolak, “Bapak… Ibu… kalau semua orang yang meninggal dibuatkan tugu kenangan, bisa-bisa kampus ini akan penuh dengan tugu seperti kuburan.” Sang Bapak akhirnya menawarkan, gimana kalau mereka menyumbang satu gedung untuk kampus ini?

Sang rektor heran dan kaget, “Bapak… Ibu… anda tahu berapa biaya untuk membangun satu gedung? Anda lihat, berapa jumlah gedung di kampus sini? Total nilai bangunan gedung di sini adalah tujuh setengah juta dolar. Anda bisa menghitung berapa nilai satu gedungnya.”

Sang Ibu berbisik pada suaminya, “Apakah untuk membangun kampus hanya diperlukan tujuh setengah juta dolar? Kenapa kita tidak membangun universitas sendiri saja, Pak?” Sang rektor semakin heran dan kaget. Akhirnya sang bapak dan ibu pamit pergi meninggalkan sang rektor yang masih terperangah.

Bapak dan ibu itu adalah Mr dan Mrs Leland Standford, kampus yang didatangi mereka adalah Harvard university, dan kampus yang akhirnya mereka bangun adalah Standford University.

Sekarang cerita saya sendiri, tepatnya cerita teman saya. Pada suatu hari, ibu teman saya belanja ke pasar. Setelah mendapat barang-barang kebutuhan masak yang dicarinya, sang ibu ke toko durian. Sang ibu bertanya pada si penjual durian, “Pak, harga durian ini berapa per buahnya?” Si penjual memandangi sang ibu yang tampak sangat sederhana ini, “Maaf bu, harga durian ini sebuahnya enam ratus ribu. Ibu cari durian di tempat lain saja.” Sang ibu akhirnya ke toko sebelahnya, dan memborong semua durian yang ada di toko sebelah itu. Si penjual durian tadi terpana, dan kaget banget demi melihat sang ibu yang memborong semua durian di toko sebelahnya.

Cerita ibu kawan saya ini beneran, bukan fiktif. Sementara kisah Mr. dan Mrs. Leland Standford di atas telah dikonfirmasi oleh Standford university bahwa itu adalah fiktif. Baik fiktif atau bukan, kisah-kisah ini memberi kita pelajaran untuk tidak menilai sesuatu dari kulitnya. Don’t (over) Judge A Book by Its Cover. Sabarlah, tunggulah, sampai kita benar-benar tahu isinya, baru memberi penilaian dan memutuskan.

This entry was posted in Motivasi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *