Potong Kumis Keramat

Image courtesy of graur razvan ionut / FreeDigitalPhotos.net

Kumis sudah menjadi trademark-ku. Rohmad itu ya yang berkumis itu. Kalo Rohmad tidak berkumis, itu pasti bukan Rohmad yang ini. Kemaren sore aku potong kumis. Sampai habis dan klimis. Biasanya khan potong kumis hanya untuk merapikan saja. Merapikan ujung-ujung kumis yang melebihi bibir. Nah, yang sekarang, benar-benar habis pohon kumisnya, untung tidak sampai ke akar-akarnya 🙂 Niat untuk potong kumis itu datangnya spontan. Tidak dinyana-nyana. Begitu masuk kamar mandi untuk mandi malam, tiba-tiba terbersit pikiran “Gimana ya seandainya aku potong kumis.” Tanpa pikir panjang langsung aku putusin, “Bungsus son!” Aku ambil pisau cukur yang biasa aku pakai untuk potong janggut. Basuh kumis dengan air sabun, trus sret-sret-sret, berguguran deh itu kumis. Raba-raba kumis pakai jari tangan, wow…. halus banget, serasa ngelus kulitnya anakku yang paling kecil. Karena di kamar mandi tidak ada cermin, aku belum bisa melihat seperti apa tampangku kini.

Selesai mandi, keluar kamar mandi, berharap segera ke kamar untuk ngaca. Eh, pas buka pintu kamar mandi, si Umi (aku manggil istriku Umi) langsung terperanjat, “Ayah, kenapa itu kumis???” He…he…he… aku keduluan, orang yang tahu duluan kalo aku tanpa kumis bukannya aku sendiri malah istriku. Dengan komentar singkat “Lagi cari penampilan baru:)” aku langsung menuju kamar untuk ngaca. Ha…ha…ha… aku ketawa ngakak ngelihat tampang yang berubah total. Sambil nglihatin cermin aku teriak “Hah, ini mah bukan gue banget!”. Aku sama umi ketawa-tawa demi melihat tampang yang aneh ini 🙂

Habis ganti baju dan ketawa-ketawa dengan tampang baru, aku langsung nemuin anak-anakku (Nisa, Yoga, Haris) yang sedang nonton TV di lantai atas. Setengah berlari aku naik tangga, padahal biasanya jalannya terseok-seok, hanya untuk pamer tampang ke anak-anak. Begitu sampai, si Nisa langsung senyum dan dilanjutkan ketawa ngakak “Hah…. ayah mukanya lucu :)” Kata Nisa, bibirku seperti jontor habis dipukulin. Gak habis-habisnya Nisa membahas tampang ayahnya yang berubah ini. Sementara Yoga dan Haris tampaknya tidak begitu syok dengan perubahan wajah ayahnya. Si kecil berdua ini hanya nglihatin saja, selanjutnya fokus lagi nonton film kartun di TV 🙂

Pagi ini di kantor, kawan-kawan pada komentar. Pastilah, komentarnya macem-macem, ada yang sekedar bilang wajahku berubah, ada yang bilang “ini siapa ya, kok kayaknya kenal :)”, ada yang bertanya kenapa kumisku dipotong. Salah satu komentar yang lucu adalah “Om, tadi habis dipalak orang ya. Mau mana, harta apa kumis?!!”. Ha…ha…ha… Kalo lagi dipalak sama orang, dan dia ngasih pilihan itu, jelas lah aku serahkan kumis ini, lagian gak sampai satu bulan juga bakal balik lagi.

Komentar yang lucu lagi, “Wah-wah-wah, ilmu loe bakal ilang Mad. Khan pinter loe ada di kumis :)”. Pokoknya ada-ada saja komentar kawan-kawan tentang kumis yang hilang ini. Jangankan mereka ya, aku saja merasa asing dengan tampang baru ini. Soalnya, sudah lama banget aku tidak potong kumis sampai habis. Aku manjangin kumis dari waktu masih SMP, sejak itu, aku memotong bersih kumis hanya sesekali saja. Seingatku, terakhir motong kumis sampai klimis adalah empat tahun yang lalu.

Mengapa aku sampai terobsesi dengan kumis, kok seolah-olah si Rohmad itu ya si kumis itu? Ceritanya bermula dari aku kelas 4 SD. Wow, itu berapa tahun yang lalu ya 🙂

Pada suatu hari, once upon a time. He…he…he… ini mau cerita apa sih 🙂 Ketika sedang maen lari-larian, sepertinya waktu itu sedang maen benteng-bentengan, aku kesandung lantai teras kelas 4. Aku jatuh telungkup, gigiku membentur lantai pas di pintu masuk kelas. Karena waktu itu sedang histeria banget, maennya lagi seru-serunya, posisi mulutku terbuka lebar karena ketawa, jadi waktu mulut kebentur bibir tidak kena, yang kena hanya gigi seri. Karena kuatnya benturan mulut dengan lantai, gigi seri depan atas patah 1. Karena gigi yang jadi ujung tombak kegantengan ini patah, otomatis gantengku juga berkurang alias turun drastis. Kalo skor gantengku sebelumnya 90 (dari nilai 100) maka sekarang jadi 60 🙁

Selama SD kelas 4 sampai kelas 6 aku gak nggubris gigiku yang patah itu. Belum mikirin penampilan. Akhirnya, aku masuk SMP. Di sinilah aku mulai mikir penampilan. Aku mikir sambil ngaca, oh jelek juga ya gigiku ini. Kalo ngomong kelihatan gigi patahnya, apalagi kalo senyum dan ketawa. Bener-bener lucu abis, gak ada keren-kerennya sama sekali. Kalo mulut lagi mingkem, katanya aku ini ganteng banget. Tapi kalo ngomong, baru deh ilang itu ganteng. Terus terang ini bikin aku malu, gak percaya diri. Padahal dengan karunia wajah ganteng ini aku mestinya super pede 🙂 Namun apa daya, sebagai seorang anak yang baru menginjak remaja aku sangat terganggu dengan penampilan ini. Untuk menutupi kekurangan ini, kalo ngomong bibirku aku tarik ke bawah sehingga gigi atas yang patah itu tidak kelihatan. Lucu khan, ngomong gak rileks karena harus maksa bibir atas ketarik ke bawah, agar gigi atas gak kelihatan. Kalo senyum dan ketawa, walah…. lucu lagi.

Waktu SMP kami punya guru olah raga, namanya Pak Pardam, kumisnya lebat banget nglebihin Pak Raden. Aku berpikir, seandainya aku punya kumis kayak Pak Pardam itu, dan kumis ini tumbuh melebihi bibir atas, kalo aku ngomong pasti gigiku tidak kelihatan karena ketutupan kumis. Inilah, awal dari obsesiku akan kumis. Aku sampe beli obat penumbuh kumis, namanya Firdaus Oil, demi obsesi punya kumis ini he…he…he… Karena mungkin masih kanak-kanak, kumisku tidak tumbuh-tumbuh, yang aneh malahan bulu ketekku tumbuh duluan dan lebih lebat meskipun tidak dikasih obat 🙂

Hingga akhirnya kelas tiga SMP, oleh saudara dan teman-teman aku disarankan untuk nyopot gigi yang patah itu dan menggantinya dengan yang palsu. Kebetulan gigiku yang patah itu infeksi, gusinya bengkak dan sakit banget. Lantas aku ke dokter gigi untuk nyabutnya. Dua hari setelah gigi dicabut, gusi bekas gigi yang dicabut masih ada darahnya, aku gak sabar ke tukang gigi untuk dibuatkan gigi palsu. O la-la, akhirnya gigiku sempurna, sekarang berani ngomong, senyum, dan ketawa rileks tanpa harus maksa-maksa nurunin bibir atas ke bawah.

Namun, obsesi akan kumis masih belum berakhir. Wajah ganteng Pak Pardam yang berkumis tebal itu masih membayang-bayangiku. Seiring bertambahnya umur, kumisku makin lama makin lebat dan panjang. Sampai hari ini, aku masih sayang banget ama kumisku 🙂 Kalo toh sekarang aku potong habis, ini hanya untuk variasi aja, sekali-kali tampil beda. Dua minggu lagi kumis ini juga akan balik kembali seperti sedia kala 🙂

This entry was posted in My Personal Life and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Potong Kumis Keramat

  1. Wow, that’s what I was exploring for, what a stuff!
    present here at this blog, thanks admin of this web site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *