Film Inception: Mimpi dalam Mimpi, Relatifitas Waktu

Masih cerita tentang kawanku, Prib. Lebih tepatnya, ceritanya Prib aku ceritakan kembali di tulisan ini. Cerita Prib ini masih berbau-bau science, pseudoscience lah. Cerita tentang mimpi. Sebagain besar temen-temen tentunya tahu film Inception, yang dibintangi aktor Leonardo DiCaprio dan disutradarai oleh Christopher Nolan. Cerita yang paling menarik di film ini adalah tentang mimpi.

Di film Inception, diceritakan tentang mimpi di dalam mimpi, alias mimpi bertingkat (multi level), bahasa kerennya lucid dream. Tingkatan mimpi yang sering kita alami mungkin dua tingkat. Dan mungkin kita pernah mengalami juga tiga tingkat, tapi kita tidak ingat. Lha wong mimpi 1 tingkat saja sering lupa, apalagi dua atau tiga tingkat. Kalo di film ini, mimpi sampai tingkat 4. Wow!

Pernah mimpi seperti mengalami peristiwa yang lama banget, padahal tidur hanya beberapa jam saja? Aku pernah mengalaminya. Kalau mimpi indah sih asyik-asyik aja, lha kalau mimpi buruk? Wah, bisa kayak di neraka aja itu. Continue reading Film Inception: Mimpi dalam Mimpi, Relatifitas Waktu

Spiritual untuk Dialami, bukan Sekedar Pengetahuan

Image courtesy of digitalart/ FreeDigitalPhotos.net

Aku punya teman. Namanya Pribadi. Laki-laki dewasa menjelang umur 40-an. Mapan secara sosial dan ekonomi. Namun belum mapan secara spiritual. Setidaknya itu yang dia sampaikan kepadaku. Kalau nurut aku sendiri justru malah sebaliknya, dia belum mapan secara sosial maupun ekonomi, tapi secara spiritual malah sudah mapan. He…he…he… kebalik-balik ya. Gak aneh kok, ini khan cuma mainan persepsi saja. Persepsi dia tentang dirinya begitu, dan persepsiku tentang dirinya begini. Sama-sama valid.

Sebut saja dia Prib. Lha dia maunya dipanggil begitu. Kalau dia minta dipanggil Angka, ya akan kupanggil Angka. Dalam banyak hal, aku belajar banyak dari dia. Khususnya belajar dewasa atau wise. Yah, dalam bahasa yang muluk-muluknya, aku belajar spiritual dari dia. Nah, sekarang mari ngomongin spiritual. Yang aku omongin di tulisan ini mostly juga dari dia-dia juga. Continue reading Spiritual untuk Dialami, bukan Sekedar Pengetahuan

Tidak Berbohong walau dalam Situasi Sulit

Image courtesy of Stuart Miles/ FreeDigitalPhotos.net

Secara akal sehat (common sense) bohong itu tidak baik. Kadang-kadang kita dihadapkan pada situasi yang memaksa kita untuk berbohong. Untuk justifikasinya, kita lantas membuat-buat alasan “Oh, ini khan darurat, emergency. Dalam kondisi gini bolehlah berbohong.” Apapun alasannya, sebagai manusia normal kita akan merasa menyesal setelah melakukan tindakan berbohong. Rasa menyesal ini, adalah beban yang mengganggu kesehatan mental kita. Kalau dalam bahasa spiritualnya, bohong adalah energi negatif yang mengotori kesucian jiwa sehingga menghalangi orang untuk mencapai pencerahan. So, sebaiknya sebisa mungkin bohong itu dihindari. Kalau tidak bisa, ya gimana lagi 🙂

Saya punya cerita, bagaimana cara untuk menghindar dari berbicara bohong. Triknya lumayan unik, out of the box . Continue reading Tidak Berbohong walau dalam Situasi Sulit

Johnny Depp Punya Saudara Orang Indonesia

Siapa yang tak kenal Johny Depp. Bintang film Pirates of the Caribbean, dengan karakter Jack Sparrow, ini dikenal di mana-mana. Semua sequel Pirates-nya menangguk sukses besar: The Curse of the Black Pearl, Dead Man’s Chest, At World’s End, On Stranger Tides. Pengin tahu berapa Johnny Depp digaji dari sequel On Stranger Tides? Jangan kaget ya, US$ 55,5 juta, lebih dari setengah trilyun rupiah!

Dan jangan kaget ya [ini gak ada hubungannya dengan capaian dia dari maen film]. Konon katanya, Johny depp punya saudara orang Indonesia. Wajahnya mirip banget seperti kembar, apalagi yang ada kumisnya. Setidaknya itulah kata temen-temenku he…he…he… Continue reading Johnny Depp Punya Saudara Orang Indonesia

Demanding, Cara Sukses Mencapai Tujuan

Image courtesy of Ambro / FreeDigitalPhotos.net

Beberapa waktu yang lalu saya diskusi dengan team saya, dalam rangka coaching. Dalam sesi coaching ini, tema yang ditawarkan adalah TODE (Take ownership, Outside-in, demanding, End-to-end) dan Performance. Sebagian besar memilih tema Demanding. Saya bertanya, mengapa mayoritas memilih demanding? Ternyata alasan yang paling dasar adalah kesulitan mereka dalam demand (request) kepada orang (tim) lain. Delivery time dari orang/pihak/tim/rekan kerja yang di-request, sangat sering tidak sesuai harapan. Kadang hanya meminta data yang sederhana saja, rekan kerja memberinya beberapa hari kemudian, itupun setelah diingatkan beberapa kali.

Dalam diskusi coaching itu, kita mencoba mengupas sampai tuntas, mengapa orang lain tidak memberi sesuai yang kita harapkan? Di kantor ini, kita sudah mafhum dengan budaya kerja “kepuasan pelanggan adalah hal yang utama”, kita berasumsi bahwa semua orang punya semangat untuk memberikan yang terbaik. Namun tampaknya, banyaknya beban pekerjaan, menyebabkan orang tidak mudah untuk menentukan prioritas. Juga banyaknya pekerjaan, orang kadang lupa dengan request kita. Oleh karena itu, kita dituntut untuk lebih demanding. Kita perlu melakukan tindakan yang lebih, tidak sekedar meminta dan menunggu diberi. Continue reading Demanding, Cara Sukses Mencapai Tujuan