Memaknai Kegagalan


Image courtesy of tokyoboy / FreeDigitalPhotos.net

Apa yang kita rasakan ketika gagal? Stress, menyesal, putus asa, merasa tidak berguna, dan perasaan-perasaan negatif lainnya? Berapa lama kita merasakan perasaan-perasaan negatif tersebut? Sejam, sehari, sebulan, setahun, berpuluh-puluh tahun, atau bahkan selamanya? Waduh, sengsara sekali ya kalau sampai selamanya ๐Ÿ™‚

Waktu masih SMA dulu saya pernah bercita-cita menjadi tentara. Saking kuatnya keinginan itu, sampai-sampai oleh teman-teman saya dibilang sebagai maniak catar (catar: calon taruna AKABRI). Untuk meraih keinginan itu, segalanya saya lakukan. Latihan fisik: push up, pull up, sit up, lari, renang, bahkan sampai-sampai otot perutku jadi six pack sebelum waktunya. Latihan non fisik: belajar bicara tegas dan lancar, hingga tidak malu ngomong sendiri sama tembok ๐Ÿ™‚ Singkat cerita, saya lolos semua tahap seleksi hingga akhirnya ikut seleksi tingkat pusat di Akmil Magelang. Namun, di seleksi akhir ini saya gagal. Yang lebih menyakitkan, saya mendapatkan ranking 1 di antara yang gagal itu, seandainya ranking saya dinaikkan 1 saja, pasti saya lolos.

Begitu gagal masuk AKABRI, langit serasa runtuh, bumi serasa hancur, dan hidup seakan berakhir dengan derita.

Waktu pun berlalu. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun telah lewat. Beberapa waktu yang lalu aku ketemu teman yang jadi tentara. Dia bercerita kalau hidupnya “nomaden” karena seringnya berpindah tempat tugas, bertugas di suatu tempat/wilayah paling lama hanya dua tahun. Kalau pindahnya ke wilayah pelosok, karena berbagai pertimbangan, anak-istrinya tidak bisa ikut serta. Waduh, bukan gue banget! Ternyata, kehidupan tentara itu tidak sesuai banget dengan selera hidup saya. Sekarang saya mensyukuri banget hidup yang sekarang, untung tidak jadi tentara ๐Ÿ™‚

***

Saya sangat terinspirasi dengan cerita Steve Jobs di Steve Jobs Stanford Commencement Speech 2005. Tiga cerita inspiratif tersebut adalah tentang connecting dots, love and lost, dan death. Yang relevan dengan cerita saya di tulisan ini adalah tentang connecting dots, menghubungkan titik-titik peristiwa. Berikut ini kutipan bebasnya:

Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Macintoshย  tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Macintosh , maka tidak akan ada PC yang seperti sekarang ini. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.

Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Pelajaran yang bisa saya ambil adalah: peristiwa-peristiwa (termasuk kegagalan) di masa lalu adalah bagian penting dari garis kesuksesaan saya saat ini. Jadi, kegagalan itu patut disyukuri. Nah, bila saat ini saya gagal, maka saya meyakini bahwa ini adalah bagian dari garis kesuksesan saya di masa mendatang. Indah sekali bukan? ๐Ÿ™‚

This entry was posted in Motivasi. Bookmark the permalink.

3 Responses to Memaknai Kegagalan

  1. Daniel says:

    Luar biasa…!

  2. suprapto says:

    Terimakasih Pak atas sharing untaian hikmah perjalanan hidupnya, membaca kisah bapak serasa mendapatkan energy baru lagi…

  3. Heya i’m just the very first time the following. I ran across this kind of plank and that i believe it is seriously handy & this forced me to be available a lot. I’m hoping to present something again and also assist people as you made it easier for us.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *