Database Appliance

Di sistem pada umumnya, database yang dibeli (lisencenya) hanyalah software databasenya saja; sementara server (hardware, OS, storage) merupakan hal (lisencenya) yang terpisah. Bisa saja kita memakai database Oracle dengan Server HP, OS Linux, dan Storage dari Sun Storage; dan masing-masing dengan lisence yang terpisah pula. Pada umumnya memang demikian.

Ada satu sistem di mana semua solusi di atas disediakan dalam satu product, ini dikenal sebagai database appliance. Software database menjadi satu paket dengan servernya (hardware, OS, storage). Dari sisi user, ini benar-benar sederhana banget, satu product/lisence/vendor untuk semua solusi. Bandingkan dengan sistem biasa di mana kita punya vendor yang berbeda untuk database, hardware server, OS, dan storage. Tentu saja, kemudahan itu pasti ada harganya 🙂


Contoh product database appliance yang terkenal adalah:

  • Teradata
  • Netezza
  • Oracle Exadata Database
  • Greenplum Database (databasenya PostgreSQL)
  • IBM InfoSphere Balanced Warehouse (databasenya [dulu dikenal sebagai] DB2)

Database appliance paling banyak dipakai untuk datawarehouse, sehingga wajar saja jika kemudian istilah datawarehouse appliance lebih terkenal dibandingkan istilah database appliance. Dari kelima contoh database di atas, semuanya dipakai untuk datawarehouse, kecuali Oracle Exadata yang [oleh Oracle diklaim] bisa suitable untuk diimplementasi di sistem OLTP.

Kelebihan datawarehouse appliance:

  • Dari sisi cost (biaya).
    Meliputi biaya implementasi awal, maintenance, dan expand capacity.  Untuk datawarehouse yang relatif kecil (kurang dari 1 TB), sistem non appliance mungkin menjadi pilihan. Sementara untuk datawarehouse yang besar (mencapai puluhan hingga ratusan TB), sistem appliance bisa lebih [bahkan sangat] efesien.
  • Dari sisi teknologi.
    [Sebagian besar] Datawarehouse appliance menggunakan teknologi MPP (massively parallel processing) dengan “shared-nothing architecture“, contoh yang saya sangat mengerti adalah Teradata [sementara solusi Oracle tidak tidak menggunakan “shared-nothing architecture”]. Nanti kapan-kapan saya bahas lebih lanjut lagi mengenai ini. Intinya, teknologi ini menjadikan datawarehouse appliance sebagai sistem yang high performance dan high scalability.
  • Dari sisi teknik.
    Konfigurasi sudah diset dari awal implementasi (preconfigured). Maintenance database dan servernya (hardware, OS, storage) dari satu vendor, sehingga meminimalkan masalah-masalah yang berkaitan dengan integrasi dan kompatibility. Ada yang bertanya, lantas DBA nanti jadi pengangguran dong? 🙂 Tidak begitu, justru DBA akan bisa fokus di SQL performance dan tidak disibukkan dengan masalah setting memory, setting parallelism, tuning disk I/O, dll. Selama menjadi DBA Teradata, buktinya saya masih fine-fine saja 🙂
This entry was posted in Advance Technology, Datawarehouse and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Database Appliance

  1. Rohmad says:

    Berikut ini komentar dari tulisan ini yang diposting di milis http://tech.dir.groups.yahoo.com/group/indo-oracle/
    —————————

    Dear Kang Rohmad,

    Sekedar menambahkan,
    Dari contoh database appliance dibawah, hanya Greenplum yang bisa dibeli terpisah softwarenya, hardwarenya bisa di provide oleh customer. Netezza sudah diakusisi IBM dan Greenplum sudah diakusisi EMC. Kedua database ini memang menggunakan PostgreSQL namun sudah di enhance sehingga support MPP (Massive Parallel Processing).

    Mengenai Exadata, saya masih belum paham apakah share-nothing atau share-everything architecture? ada yang bisa share? Topic ini cukup menarik, karena ke depan, pertumbuhan data akan semakin besar, dan dibutuhkan database yang memiliki feature untuk menganalisa data yang sedemikian besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *