Dunia hantu orang Jawa

Liburan panjang Maret lalu saya pulang kampung. Seperti biasa, ini adalah waktu yang pas untuk beranjangsana silaturahmi ke kerabat dan teman-teman lama. Saya senang sekali mendengar kabar-kabar dan isu-isu baru sejak terakhir pulang kampung yang lalu. Lebih seneng lagi kalau kumpul sama temen-temen lama, bercerita tentang keluarga sekarang, bercerita tentang masa kecil, juga bercerita tentang orang-orang yang dulu kita taksir 🙂

Ada cerita menarik dari Lik Sarni. [Eh, nama-nama dan hubungan kerabat dalam cerita ini saya samarkan ya. Tetep, inti ceritanya tetep sama] Beberapa waktu yang lalu ada tetangga yang meninggal, namanya mbah Kunti. Sehari setelah meninggalnya, cucunya melihat pocong di pojok dapur. Cucunya bernama Rahayu, baru 5 tahun. Rahayu sebenarnya tidak tahu dengan apa yang dilihatnya, dan diapun tidak takut.

Cerita Rahayu ke Ibunya, “Bu, tadi saya melihat orang pakai mukena. Tapi kain di ujung kepalanya diikat. Mukanya mirip Mbah Kunti” kata Rahayu sambil mengangkat lengannya ke atas kepala dengan menempelkan kedua telapak tanggannya, seperti memperagakan postur sosok (pocong) yang dilihatnya. [Mukena adalah baju berwarna putih untuk sholat bagi wanita; berupa kain terusan dari atas ke bawah; dan hanya mempunyai lubang untuk muka, tangan dan kaki]. Sang ibupun menangkap maksud Rahayu. Ya, rahayu telah melihat pocong.

Segera para kerabat mendengar cerita itu. Tentu saja karena di kampung, pelan-pelan tetanggapun pada tahu lewat bisik-bisik. Ketakutanpun segera menyebar. Seperti biasa, ini hanya berlangsung sebentar. Sebulan setelah kejadian, suasana kembali normal seperti biasa.

***

Ada yang menarik dari cerita hantu yang dilihat Rahayu ini. Pertama, Rahayu belum punya konsep (gambaran) terhadap apa yang dilihatnya. Dia tidak tahu kalau itu namanya hantu pocong. Kedua, Rahayu tidak takut terhadap apa yang dilihatnya. Kata ibunya, “Untung Rahayu belum tahu apa-apa. Coba kalau tahu, dia pasti pingsan melihat pocong itu.”

Tubuh manusia itu mengandung energi panas. Coba anda berdiri setelah duduk beberapa lama di kursi. Suruh teman anda memegang bekas yang anda duduki tadi, terasa panas bukan? Kalau anda pakai sensor pemindai panas, akan tampak sebentuk sosok yang konturnya mirip anda. Ya, itu adalah energi (panas) anda yang masih membekas dan tertinggal di kursi yang tadi anda duduki. Setelah beberapa lama, panas di kursi tadipun tidak ada lagi, pergi dihembus angin.

Orang meninggal, itu ibarat orang yang baru bangkit dari kursi. Ada bekas (lapisan-lapisan energi) yang tertinggal. Suatu penampakan yang wajahnya mirip dengan orang yang baru meninggal, itu tak lain adalah bekas (sisa-sisa) energi yang masih ada di sekitar tempat tinggal orang yang bersangkutan. Demikian juga penampakan di tempat kecelakaan yang menewaskan orang. Kalau penampakan di kuburan, begini penjelasannya: orang yang baru meninggal, tentunya masih ada sisa-sisa energi.

***

Selanjutnya tentang rasa takut. Ternyata pocong tidak menakutkan bagi Rahayu, padahal bagi sebagian besar orang sangat menakutkan. Kenapa? Karena Rahayu belum punya konsep bahwa:
– Yang dilihatnya itu adalah hantu pocong
– Hantu pocong itu menakutkan

Kalau toh Rahayu sudah punya konsep bahwa yang dilihat itu adalah hantu pocong, tapi dia belum punya konsep bahwa hantu pocong itu menakutkan, tetep saja dia tidak takut.

Bagaimana konsep tentang hantu pocong yang menakutkan ini bisa masuk ke kepala orang Jawa? Yah, inilah kekuatan cerita. Di Jawa secara turun temurun, anak-anak selalu mendapatkan cerita tentang hantu-hantu. Anak-anakpun sering ditakut-takuti bahwa hantu itu seram, kadang-kadang ada yang membahayakan. Memang, ada kalanya anak-anak perlu ditakut-takuti, misalnya jangan keluar malam-malam, nanti ada hantu. Padahal sebenarnya yang bahaya itu bukan hantu, tapi hewan-hewan malam liar yang bahaya.

***

Jadi, ketakutan-ketakutan ini letaknya bukan di dunia real. Tapi di dunia konsep. Konsep-konsep itu tertanam secara kokoh pada diri manusia sejak kecil. Saking kokohnya, sehingga tidak ada bedanya dengan yang real.

This entry was posted in Spiritual and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Dunia hantu orang Jawa

  1. Massulist says:

    Mungkin secara teori konsep anda benar, tapi kalo dilihat dari contoh cerita anda tentang pocong mbah kunti. ada beberapa pertanyaan yang akan saya ajukan :

    1. apa mungkin mbah kunti setelah meninggal diletakkan dipojok rumah secara berdiri sehingga rahayu melihat sosok mbak kunti dalam keadaan berdiri? bukannya seharusnya sosok pocong itu muncul dimana dia diletakkan.

    2. Apa benar manusia ketika sudah meninggal masih memiliki panas tubuh yang begitu kuat sehingga masih membekas hingga seorang anak rahayu bisa mendeskripsikan bentuk pocong sedemikian rupa sedangkan dia sendiri belum pernah menerima konsep perepocongan?

    3. Terus apakah harus menunggu setelah meninggal pancaran panas tubuh akan tampah riil membetuk sebuah sosok…bukannya seharusnya saat masih hidup?

    4. Kenapa kita tidak pernah melihat sosok kembaran kita sendiri duduk di kursi kantor padahal kita kurang lebih 8 jam/hari duduk dikursi tersebut? padahal kalo melihat konsep anda hal itu sangat mungkin terjadi…apa karena kantor kita ber AC jadi konsep itu tidak berlaku?

    Dan masih banyak pertanyaan2 yang menggelitik mengenai konsep anda tersebut.
    Bukannya saya pendukung konsep perpocongan dan bukannya saya tidak setuju dengan konsep anda..Tapi dari pandangan saya sebagaiseorang muslim…hantu itu ada karena tuhan memang menciptakan sosok tersebut…ingat 4JJ1 itu menciptakan manusia malaikat jin…dan mungkin pocong itu termasuk golongan jin. Pis bos ini sekedar tukar pikiran aja….

  2. khu says:

    ya…bagus juga sih,untuk paham tapi harus dibaca 2x, soal menyangkut konsep energi,

  3. Pertanyaan Mas Sulist perlu dijawab nih, Mad. Aku pun memiliki pertanyaan-pertanyaan seperti itu, terutama yang berhubungan dengan energi panas yang ada pada mayit.

    Pernah pegang mayit?

    Mayit itu umumnya dingin. Setelah mati mayit akan menjadi dingin. Prosesnya dimulai dari kaki dan menjalar ke atas sampai kepala. Pada orang yang sedang sakaratul maut kadang-kadang kakinya sudah terasa dingin seperti tidak berdarah. Saya bisa menulis seperti ini karena saya pernah menunggui ibu teman main saya di kampung yang sedang sakaratul maut.

    Menilik dari hal tersebut, energi panas semestinya sudah tidak terdeteksi pada sesosok mayit. Apalagi kalau mayit itu sudah dimandikan dan dikafani sehingga menjadi pocong, energi panas sama sekali sudah tidak ada. Yang ada hanyalah dingin tubuh pocong. Bulan februari lalu anak teman saya meninggal karena DB. Ketika akan dimandikan saya meraba tubuh mayitnya dan terasa singin. Pun ketika dikafani. Dus, konsep penampakan pocong karena masih ada energi panas yang ditinggalkan si pocong itu tidak bisa diterima.

  4. rohmadne says:

    Energi itu bukan cuma panas. Saya mendoakan orang tua saya, itu adalah bentuk penyaluran energi [baik]. Saya mengutuk orang yang saya marahi, itu juga bentuk penyaluran energi [buruk]. Orang mati, panasnya mungkin hilang semua. Orang mati yang tidak ikhlas, banyak dendam yang belum terbalas, banyak ambisi yang belum tercapai, dan banyak emosi-emosi lain yang belum terpenuhi; itu bisa dipandang sebagai masih menyisakan energi. Energi tersebut bisa terasa di sekitar tempat dia tinggal selama ini. Semakin jauh (tempat dan waktu) dari tinggal yang bersangkutan, semakin kecil kemungkinan energi tersebut tercerap oleh orang.

    Bentuk-bentuk yang tercerap orang (seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, vampir, drakula, dll) itu adalah hasil olah pikiran manusia. Terus, kok kenapa pocong yang dilihat Rahayu itu ada di dapur, bukannya di bekas mayat itu dibaringkan? Energi itu mungkin tidak terkonsentrasi di satu titik; misalnya di dapur atau kamar saja. Penjelasannya mungkin seperti ketika kita melihat sedaerah (sekelompok) awan. Si Anu seperti melihat bentuk domba di ujung utara; sementara si Ana seperti melihat muka orang di ujung tenggara; dan si Ani mungkin tidak melihat apa-apa, just sekelompok awan saja. Seperti itulah yang dialami Rahayu. Pandangan-pandangan yang nampak, itu tergantung preferensi si pengamat saja.

    Lantas, kenapa si Rahayu melihatnya seperti pocong, sementara dia sendiri belum punya konsep apa-apa tentang pocong? Ini berkaitan dengan bawah sadar kolektif (collective unconscious, term by Carl Gustav Jung). Pada suatu tingkat tertentu, orang Jawa menempati alam bawah sadar yang sama. Dalam kesadaran sehari-hari, Rahayu tidak mengenal konsep pocong, namun di dalam bawah sadar sana, konsep pocong itu sudah ada. Bawah sadar orang Jawa telah mengenal konsep pocong.

    > Kenapa kita tidak pernah melihat sosok kembaran kita
    > sendiri duduk di kursi kantor padahal kita kurang lebih 8
    > jam/hari duduk dikursi tersebut? padahal kalo melihat
    > konsep anda hal itu sangat mungkin terjadi…apa karena
    > kantor kita ber AC jadi konsep itu tidak berlaku?

    Ini tergantung kepekaan masing-masing orang. Yang sederhana saja, banyak orang buta warna tidak bisa membedakan warna-warna tertentu.

    > Tapi dari pandangan saya sebagaiseorang muslim…hantu itu
    > ada karena tuhan memang menciptakan sosok tersebut…ingat
    > 4JJ1 itu menciptakan manusia malaikat jin…dan mungkin
    > pocong itu termasuk golongan jin.

    Dalam konsep Islam, segala sesuatu khan ciptaan Allah juga, termasuk energi-energi di dalam tubuh manusia itu. Apakah pocong itu termasuk dalam golongan jin atau setan? Itu tergantung penafsiran masing-masing orang.

  5. dshe says:

    Massss…
    Klo bisa hadirkan video ttg kehidupan mistik dongg..
    Misalnya video yg merekam penampakan makhluk halus gitu..

  6. mamek says:

    anak kecil mlihat pnampakan, itu hal biasa, ada 2 versi, versi rasionalnya imajinasi anak 5 taon yg sedang berkembang krn liat sinetron “jd pocong”nya si mandra, versi supranaturalnya anak blm baligh mempunyai kesucian “mata” batin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *