Apakah Uang Menghambat Spiritual?

Sering, orang yang mendalami spiritual dibilang untuk meninggalkan duniawi. Salah satu yang ditunjuk sebagai duniawi adalah harta. Lebih spesifik lagi, salah satu yang ditunjuk sebagai harta adalah uang. Karena saking semangatnya dengan spiritual, si orang tersebutpun rela meninggalkan duniawi (atau harta, atau uang). Aktifitas mencari uang hanya sekedarnya saja untuk mencukupi kebutuhan pokok, selebihnya aktifitas yang dilakukan adalah mendalami spiritual.

Konon katanya, hal-hal yang berkaitan dengan duniawi itu tidak bisa disatukan dengan sipiritual (dalam tradisi islam sering disebut sebagi ukhrowi). Sesuai dengan asal katanya, spirit berarti ruh. Ruh adalah immaterial, lawannya materi.; dan materi ini sering disinonimkan dengan duniawi. Bagaimana mungkin, materi (duniawi) disatukan dengan yang tidak materi (spiritual). Begitu katanya.

Dalam pandangan saya, spiritual adalah kesadaran terhadap diri sendiri. Diri manusia terdiri dari yang materi dan tidak materi (immateri). Dalam kebiasaan berpikir kita, diri yang immateri ini ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi, sehingga lebih gampangnya kesadaran terhadap diri sendiri itu disebut sebagai kesadaran terhadap diri yang lebih tinggi (immateri) –> sehingga muncullah istilah spiritual itu. Whatever lah, ini tidak menjadi persoalan, hanya masalah penyebutan saja. Namun akan menjadi ‘persoalan’ manakala spiritual itu akhirnya menegasi diri yang materi.

Waduh, nulis apa sih aku ini. Kok nglambyar gini. Gak pa-palah. Aku terusin nulisnya ya. Kalo mikir-mikir malah gak jadi nulis. Seperti yang pernah saya bilang, kalo pengin nulis ya nulis aja; tulis apa yang dirasakan. Makanya sekarang saya sedang (dan akan) menulis tentang spiritual seperti yang sedang saya rasakan.

Yeah, intinya adalah kesadaran terhadap diri sendiri.

Biasanya kesadaran terhadap diri sendiri menjadi berkurang ketika emosi kita sedang kuat (marah, benci, senang, tergila-gila, pengin banget, ambisius, dll). Coba saja inget ketika anda marah, pada waktu itu sadarkah bahwa anda sedang marah? Biasanya tidak. Anda sadar setelah marah itu reda, “Oh iya-ya, tadi saya marah.” Sama juga, ketika bertemu dengan orang yang anda benci pasti sontak anda merasa tidak nyaman sekali, semua ingatan anda berkenaan dengan kebencian terhadap orang tersebut akan muncul semua. Dan anda akan sadar kembali setelah semuanya lewat, “Oh iya-iya, saya kok benci banget pada orang itu”.

Harta atau uang merupakan salah satu penyulut emosi yang kuat. Sengketa-sengketa antar anggota keluarga yang dipicu oleh pembagian warisan. Rebutan harta gono-gini pada kasus perceraian. Markup anggaran. Korupsi. Itu adalah contoh ontran-ontran di sekitar uang. Jelas sekali, para pelaku (orang-orang yang terlibat di dalamnya) akan tentunya merasakan emosi yang kuat, “Ini milikku! Ini hakku! Ini bagianku!!!”

Karena berkecenderungan meningkatkan emosi, yang selanjutnya menurunkan kesadaran diri, maka dalam ajaran spiritual sebaiknya hal itu (harta/uang) dihindari. Kira-kira begitulah. Sebenarnya ajaran spiritual tidak menekankan pada harta/uang an sich. Harta/uang hanyalah penunjuk, sementara yang ditunjuk adalah penurunan kesadaran diri. Tapi karena ‘kealpaan’ manusia, jadilah harta/uang itu dipandang sebagai inti permasalahan (bukan sebagai penunjuk).

Ini dialami oleh seorang kerabat saya. Anak istrinya hanya diberi nafkah yang cukup saja untuk kebutuhan pokok. Alasannya harta/uang hanya akan menjauhkan diri dari spiritual (dia menyebutnya Tuhan). Dia mungkin sudah siap ya, tapi gimana dengan istri dan anaknya yang tidak siap dengan kondisi itu. Jadinya ya, istri dan anaknya sering marah-marah, merasa serba kekurangan. Kalau sudah begitu, suasana rumah khan jadi tidak nyaman.

Saya tanya kepadanya, “Rumahmu tidak nyaman begini. Bagaimana kamu bisa mendapatkan ketenangan spiritual?” Jawabnya, “Aku bisa mendapatkannya dalam sholatku, dzikirku, atau meditasiku.”

Saya katakan kepadanya, “Seandainya kamu cukupi kebutuhan-kebituhan anak istrimu, tidak yang pokok saja, niscaya mereka akan lebih tentram hidupnya. Mereka tentram, rumah juga tentram. Dan kamu akan mendapatkan ketenangan tidak hanya ketika sedang sholat atau dzikir atau meditasi saja. Kamu akan mendapatkan ketenangan setiap saat.”

Dari sudut pandang energi, ketika sedang sholat/dzikir/meditasi ketika itulah energi yang besar masuk ke dalam diri kita. Inilah yang memunculkan kedamaian. Kalau digunakan dengan baik, tidak untuk dibangga-banggakan, uangpun bisa memberi energi yang besar bagi kita. Yang bisa memunculkan kedamaian juga.

This entry was posted in Spiritual and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Apakah Uang Menghambat Spiritual?

  1. huhuhu says:

    Masa sich orang spiritualis seperti ntu? Ada2 aj, malah klo orang yg benar-benar spiritualis semua kehidupan pasti tercukupi. Kenapa sich alasannya orang spiritualis ga suka kayak, alias nabung? Karena orang spitualis ntu orang yg paling gampang nyari harta, itu kok kenyataannya, makanya nafsunya ntu ga da soal harta. Karena saking mudahnya nyari harta, ya mikir aj gimana rasanya, bosen kan ma harta. Sedangkan orang duniawi saking kerikatan sama duniawi, alias nafsuan, makanya nyari hartanya ya gtu dech, penuh ketakutan besoknya gimana, ya memang ga punya kelebihan, pastilah nendang sana nendang sni, caranya ga elegan, banyak ‘dusta’ nya. Ya sekurang-kurangnya makanya pahami spiritulis ntu apa baru ngerti, hehehe… Orang spiritualis ntu artinya orang yg bebas, atau orang yg tidak terikat dengan hukum dunia, dia hanya terikat dengan hukum Tuhan. Ya ngertilah klo orang dah sampe langsung kepada yg bikin dunia, mustahil lah sampe ribut sama gtu, orang semuanya serba cukup, hehehehe… Dan enaknya orang spiritualis ntu sangat bebas, sebebas burung. Klo masih orang spiritualis terikat dengan hukum aturan manusia bukan terikat mutlak dengan hukum Tuhan, ga usah bilang ntu spiritualis lah. Ntu cuma cerita rekayasa doank. Maaf yah, ntu kenyataan di lapangan, hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *