Sehari ada 3 sampai 4 Jam di Kendaraan Umum

Saya pergi ke dan pulang dari kantor naek kendaraan umum. Jarak rumah ke kantor sekitar 35km. Pada malam hari atau hari libur, jarak segitu ditempuh sekitar 40-an menit. Kalau hari biasa, antara satu setengah sampai dua jam. Maklumlah, kemacetan di Jakarta adalah hal yang lumrah.

Kalau dihitung, rata-rata dalam sehari ada 3 sampai 4 jam yang saya habiskan di kendaraan umum. Waktu yang cukup banyak, bukan? Saya sudah terbiasa menjalani kehidupan begini. Rumah, kendaraan umum, dan kantor adalah bagian dari hidup saya. Semuanya penting. Semuanya berarti bagi saya.

Banyak teman yang mengeluhkan lamanya waktu tempuh rumah ke kantor. Katanya capek lah, terlalu banyak menyia-nyiakan waktu lah, tidak produktif lah, dan lah-lah yang lainnya. Dulu saya juga begitu. Syukurlah perasaan gitu tidak berlangsung lama saya rasakan. Kalau bisa dinikmati, kenapa tidak? Kalau kita punya kebebasan untuk menyikapi hal-hal tersebut, kenapa kita tidak milih menyikapi secara positif?

Waktu di kendaraan umum adalah waktu perantara, waktu peralihan dari suasana rumah ke suasana kantor dan sebaliknya. Di kendaraan umum kita mungkin masih memikirkan tetek bengek rumah. Dengan merenung dan introspeksi, tetek bengek itu pelan-pelan mereda, sehingga begitu sampai kantor pikiran sudah siap untuk ‘tempur’. Demikian juga sebaliknya, ketika pulang kita mungkin masih memikirkan masalah-masalah kantor di dalam kendaraan. Dengan merenung dan introspeksi, pikiran-pikiran ini mulai mereda, sehingga begitu sampai rumah pikiran sudah fresh dan siap untuk bercengkerama dengan keluarga.

This entry was posted in My Personal Life. Bookmark the permalink.

5 Responses to Sehari ada 3 sampai 4 Jam di Kendaraan Umum

  1. Mardies says:

    Daripada membuang waktu mending dipakai buat baca2 atau berfikir tentang sesuatu. Contoh saja orang Jepang yang di mana-mana kelihatan banyak yang bawa buku.

    Bisa juga dipakai buat nambah teman.

    (hehe.. asal ngomong. wong saya gak tau keadaannya kok) 😀

  2. rohmadst says:

    Sepakat Mas. Saya penginnya di bis sih sambil baca buku. Tapi gak bisa, kepala jadi pusing kalau bisnya goyang walau sedikit aja.

    Sampai sekarang saya seneng diem aja di bis, gak mikir apa-apa. Diem itu memunculkan banyak energi lho 🙂 Lha iya, dengan diem tubuh dan pikiran jadi fresh.

  3. Kurniawan says:

    Di Jakarta kah?
    [untung aku di Pati. Hehe…]

  4. budipru says:

    Kalau aku, kerja di jakarta, nyoba investasi beli rumah/apartemen di jakarta aja. investasi: nilainya gak bakalan turun, hemat lebih banyak waktu untuk berbagai hal. gimana mad?

  5. rohmadne says:

    @Kurniawan
    Sebernya saya penginnya kerja di Pati lho, Mas. Namun apa daya tangan tak sampai 🙂

    @budipru
    Iya, beli rumah di Jakarta adalah inves yang bagus. 2 Tahun yang lalu temenku beli rumah 200jt, sekarang dah ada yang nawar di atas 300jt. Kalo rumah itu aku tinggali, aku mau sekali. But, aku & keluarga lebih seneng tinggal di Tangerang. Gak tahu ya, kami dah cinta mati ama Tangerang 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *